Minggu, 25 Maret 2012

Cerita Butiran Beras

Matahari hampir terbenam, bocah laki-laki itu memutuskan untuk mengakhiri jualannya hari ini.  Enam cobek batu yang ia jajakan sedari pagi masih utuh dipikulnya.  Sudah dua hari ini, tak ada satu pun cobeknya yang terjual.  Ini artinya, hari ini ia harus melewati tempat penggilingan padi itu lagi.  Ya, ia harus memunguti beras-beras yang berjatuhan saat berkarung-karung beras tersebut diangkut untuk dikirim ke toko-toko kelontong tadi pagi.  Hampir setiap hari ia melakukannya, karena tidak banyak uang yang dapat ia perolehnya dari berjualan cobek batu.  Berjualan cobek batu bukanlah hal yang mudah.  Tidak banyak orang yang membutuhkan cobek batu lagi saat ini.  Terlebih lagi, sosok kecilnya yang kurus itu tidak terlalu kuat untuk menjajakan cobek-cobek batunya terlalu jauh dan lama.
            Sore ini, beras yang berjatuhan cukup banyak, nampaknya para kuli sedang ceroboh dalam kerjanya hari ini.  Namun itu justru menggembirakan Adip, ya, bocah laki-laki itu bernama Adip.  Ia memungut semua butir beras yang mampu ia pungutnya.  Ia pun kemudiam pulang dengan memikul keenam cobek batunya, serta menjinjing satu kantong plastik penuh beras.
          Keesokan harinya, ia memungut beras-beras di tempat penggilingan padi itu lagi.  Begitu juga dengan hari berikutnya dan berikutnya lagi.  Hingga suatu saat, dari enam cobek batu yang ia jajakan, terjual lima cobek batu, dan ia pun mendapatkan uang sebanyak 25.000 rupiah sebagai gantinya.  Adip senang bukan kepalang.  Biasanya, paling banyak terjual 2 cobek batu saja.  Tapi kali ini, ia sanggup menjual lima cobek sekaligus.  Ia pun pulang lebih cepat saat itu, dan melewati tempat penggilingan padi itu lagi.  Namun kali ini, ia melewati tempat itu bukan untuk memungut beras, melainkan membeli beras.  Ia memutuskan untuk menggunakan sebagian uang hasil dagangannya untuk membeli beras. Sudah lama ia ingin membawa pulang sekantong plastik beras bersih untuk ibu dan kedua adiknya.  Ia pun dengan perasaan senang dan bangga memasuki tempat itu, kemudian membeli beras untuk pertama kalinya.  Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia bisa menyerahkan sejumlah uang untuk membayar berasnya.  Ia tidak sabar untuk segera sampai rumah dan memberikan beras itu pada ibunya.
         Namun perasaannya teralih ketika ia keluar dari tempat penggilingan padi itu.  Ada sesosok wanita renta yang tengah membungkuk ke tanah dengan susah payah, di tempat ia biasa memunguti beras.  Wanita renta itu membawa sebuah kantong plastik dan ternyata sedang… memunguti beras.  Tanpa sadar, Adip memerhatikan wanita itu.  Berkali-kali wanita itu nyaris jatuh ketika membungkuk, gerakannya lambat dan tampak sulit.  Kantongnya pun belum seperempat terisi.  Adip membandingkan kantong plastik wanita renta itu dengan kantong plastiknya.  Di satu sisi, ia tidak tega dengan wanita itu, namun tidak dipungkiri juga terbayang dalam pikirannya menikmati hangatnya nasi dari beras bersih yang ada di tangannya saat ini bersama ibu dan adik-adiknya.
Terdiam, akhirnya Adip mengambil keputusan. Ia berjalan menghampiri wanita itu dan berkata, “Nek, ini saya punya sedikit beras, masih baru kok Nek, ini buat nenek saja.” Awalnya wanita itu menolak, namun akhirnya si nenek mau menerima beras pemberian Adip tersebut, dan pergi sambil berucap terima kasih berkali-kali pada Adip.
Wanita renta itu telah hilang dari pandangan Adip, dan hari pun sudah semakin gelap. Yang ada di tangannya saat ini hanyalah satu cobek batu sisa yang tidak terjual hari ini.  Tanpa berlama-lama, ia pun bergegas memunguti beras-beras yang masih tersisa di depan tempat penggilingan padi itu. 
Adip memang telah berhasil membeli beras, dan kini beras itu ada di tangan orang lain.  Tapi entah kenapa, hal itu tidak membuatnya menyesal ataupun kesal, memunguti tiap butir beras kali ini justru terasa lebih menyenangkan baginya.  Berkali-kali ia tersenyum simpul sambil terus memunguti butiran beras.  Dalam hatinya, kebahagiaannya hari ini bukan hanya disebabkan karena akhirnya ia bisa menjual cobek batu lebih banyak dan mendapatkan beras bersih dengan uangnya sendiri, tapi juga karena akhirnya ia bisa merasakan, betapa menyenangkannya ketika kita bisa menolong dengan memberi. Kini ia pun mendapatkan motivasi baru untuk terus bekerja keras, yaitu tidak hanya bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi, tapi juga untuk dapat menolong sesama.  Karena ia menyadari satu hal,  bahwa ternyata hidupnya dapat terasa lebih menyenangkan ketika ia bisa menciptakan senyum juga bagi orang lain.
riskapratiwi - 250312

Rabu, 22 Februari 2012

Technopreuneurship


Apa yang ada pikiran kalian ketika mendengar kata “entrepreneur”? Sukses? Kaya raya? Mungkin hal-hal seperti itulah yang menjadi tujuan dari seseorang ketika memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur.  Tapi sayangnya, terkadang bayang-bayang tersebut terlalu menyenangkan untuk diimpikan, namun ketika mulai memikirkan apa yang harus ditempuh untuk meraihnya, tidak sedikit orang meragu dan terhenti.  Ya, itulah yang terkadang seringkali menjadi penghambat bagi seseorang dalam mengambil keputusan untuk memulai suatu bisnis.  Dan, jika dilihat dari permasalahan secara umum, yang menjadi faktor utama dalam menghambat kita untuk mengambil langkah “start” adalah… modal.
                Kita tahu bahwa dalam membuat atau melakukan suatu bisnis, kita memiliki bauran pemasaran yang harus diperhatikan, karena hal tersebutlah yang menjadi pondasi utama dalam memanajemen bisnis.  Sedangkan dalam menentukan bauran pemasaran tersebut (yang meliputi dasar 4P: product, price, place, dan promotion) diperlukan budget untuk mendukungnya.  Dan dari keempat komponen itu, komponen place (distribusi dan lokasi) serta promotion dapat dikatakan memerlukan budget yang cukup besar.  Padahal, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, faktor modal sering menjadi penghambat, karena tidak semua orang memiliki modal besar ketika ia memutuskan untuk menjadi pebisnis.  Sehingga pada akhirnya, dua komponen ini menjadi penghambat “semangat berbisnis” kita. Tapi apakah dengan begitu, itu artinya kita tidak bisa memenuhi kedua faktor tersebut  jika tidak memiliki modal besar? Apakah kita harus menunggu hingga modal kita besar, baru kita bisa menyebarluaskan penjualan produk kita? Belum tentu, karena saat ini, pesatnya perkembangan teknologi telah memberi banyak kemudahan bagi kita, termasuk dalam hal berbisnis.
                Internet, siapa sih yang tidak mengenalnya? Hampir seluruh masyarakat di dunia mengenal atau, paling tidak, pernah mendengar internet.  Ya, salah satu bentuk perkembangan teknologi ini mampu memberikan akses yang cepat dan luas bagi kita, agar dapat menjangkau hubungan secara global.  Dan manfaat itu “dilirik” oleh orang-orang bidang entrepreneurship sebagai suatu peluang bisnis baru.  Mereka mampu menjadikan internet sebagai solusi bagi hambatan yang ditimbulkan dua komponen tadi, yaitu place dan promotion.
                Jika kita lihat dari tujuan place dan promotion sendiri, pada dasarnya, kedua komponen tersebut merupakan komponen yang dapat menciptakan hubungan antara bisnis dengan pasarnya, sehingga terciptalah suatu penjualan dan pembelian.  Dan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, internet memungkinkan kita dapat menjangkau hubungan secara global dengan cepat.  See! Bukankah dari hal tersebut terlihat jelas kesinambungan antara manfaat internet dengan tujuan komponen place dan promotion? Dan hal tersebut telah diaplikasikan oleh banyak pebisnis, sehingga saat ini sering kita dengar istilah “bisnis online”.
                Sebagai contoh, yaitu situs eBay yang memungkinkan kita untuk membeli barang yang kita butuhkan atau inginkan hanya dengan mengakses internet, melihat katalog digital, memutuskan membeli, dan melakukan pembayaran via transfer.  Begitu juga dengan KASKUS yaitu situs lokal yang juga sering dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk menjual maupun membeli suatu produk.  Ini artinya, pebisnis menjadi tidak perlu memiliki tempat untuk bisa berinteraksi dengan calon pembelinya, agar tercipta hubungan jual-beli, bukan? Sehingga ini berarti pula, permasalahan distribusi dan lokasi (yaitu komponen place) telah dapat teratasi.  Pebisnis tidak perlu memikirkan lagi betapa besarnya biaya yang harus disediakan untuk membeli atau menyewa tempat yang strategis, karena internet yang dapat diakses secara mobile dan murah dapat menjadi  pengganti “tempat” tersebut.
                Selain itu, karena jangkauan internet yang luas dan cepat, dapat memudahkan pebisnis untuk mempromosikan produknya agar dapat diketahui, diperhatikan, hingga dibeli oleh pangsa pasar.  Dan manfaat ini terlihat jelas pada bisnis online melalui media sosial seperti Twitter atau Facebook.  Hanya dengan meng-upload­ gambar produk kita, dan men-tag gambar tersebut dengan kontak-kontak yang kita miliki di media sosial, secara otomatis penyebaran informasi atas produk telah kita lakukan dalam waktu yang singkat dan biaya yang sangat amat minimal.  Ini artinya, komponen promotion juga telah bisa kita atasi (lagi-lagi) karena internet, bukan?
                Nah, jika dua komponen yang paling sulit dipenuhi saja dapat kita atasi, apalagi komponen-komponen lainnya.  Yang kita butuhkan selanjutnya hanyalah kemauan dan keberanian.  Jadi, masih ada alasankah bagi kita untuk tidak mau atau tidak berani memulai bisnis? Hmm… seharusnya sih tidak, karena dengan perkembangan segala aspek, terutama teknologi, yang terjadi saat ini, telah tercipta kolaborasi baru antara dua bidang, yaitu teknologi (technology) dan kewirausahaan (entrepreneurship), menjadi sebuah “Technopreneurship”.  Dan hal tersebut pun semakin membenarkan pernyataan yang mengatakan bahwa kita bisa “Being an Entrepreneur by a Click”. Setuju?

Minggu, 12 Februari 2012

My Words

yakin semua ada pada jalurnya, Allah tidak pernah meletakkan hambaNya pada jalan menuju duka

ASA

Tiba-tiba ku berharap
Kejadian itu tak pernah ada
Tiba-tiba ku berharap
Semua kesedihan itu tak pernah terjadi

Aku ingin kembali pada masa itu
Masa-masa kami dapat berkumpul
Masa-masa kami dapat pulang dengan tenang
Masa-masa indah yang nyaman itu

Aku merindukan semua
Tawa, canda, ketenangan hati
Aku ingin dapat kembali pulang
Dan berucap dengan tenang, “I’m finally home”

Suatu saat masa itu pasti kembali

riskapratiwi - 120212

NAUNGAN

Dulu, disanalah aku melepas lelahku
Disanalah aku memanjakan diriku
Dan disanalah aku melepas kerinduanku
Kerinduanku akan kehangatan keluarga

Tapi kini semua berbeda
Tempat itu telah tiada
Tempat dimana telah sekian lama menjadi pelipur laraku
Tempat dimana telah sekian lama menciptakan kebahagiaanku

Aku tidak bisa berpura-pura sepanjang waktu
Berpura-pura bahwa aku merasa baik-baik saja
Bahwa aku tidak merasa rindu
Bahwa aku tidak pernah merasa iri pada mereka

Mereka… ya, mereka mungkin tidak bisa merasakan apa yang kurasa
Mereka bahkan mungkin juga tidak bisa membayangkannya
Karena mereka tidak pernah
Mereka tidak akan tahu

Tapi aku akan berusaha
Menghilangkan perasaan yang tak kuharap
Kumencoba untuk terus bersyukur
Atas apa yang telah aku alami, hadapi, dan rasakan

Mungkin naungan itu bukan lagi sebuah tempat
Tapi naungan itu tetap ada, dalam jiwa keluargaku

*I miss my home =,(

riskapratiwi - 120212

Jumat, 03 Februari 2012

Sunshine After The Raindrops

Sky is too dark to create a smile
Weather is too cold to bring happiness
It's raining now
Make me feel so blue...

Counting hours...
Wish the raindrops stop falling
Nothing happens
And it's still raining

I'm angry
I want my sunshine!!!
I want a sunny day!!!
But I don't get it

Move on, yeah, I’m moving on!
Look for somewhere which can gives me a warm
Gives me my sun!
I try… over and over

I believe
A lot of raindrops are falling
But my sunshine is still waiting
Waiting for a time to be found by me

Give me a clue
And I’ll find you…. Sun!
I believe that
Sunshine after the raindrops