Matahari hampir terbenam, bocah laki-laki itu memutuskan untuk mengakhiri jualannya hari ini. Enam cobek batu yang ia jajakan sedari pagi masih utuh dipikulnya. Sudah dua hari ini, tak ada satu pun cobeknya yang terjual. Ini artinya, hari ini ia harus melewati tempat penggilingan padi itu lagi. Ya, ia harus memunguti beras-beras yang berjatuhan saat berkarung-karung beras tersebut diangkut untuk dikirim ke toko-toko kelontong tadi pagi. Hampir setiap hari ia melakukannya, karena tidak banyak uang yang dapat ia perolehnya dari berjualan cobek batu. Berjualan cobek batu bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak orang yang membutuhkan cobek batu lagi saat ini. Terlebih lagi, sosok kecilnya yang kurus itu tidak terlalu kuat untuk menjajakan cobek-cobek batunya terlalu jauh dan lama.
Sore ini, beras yang berjatuhan cukup banyak, nampaknya para kuli sedang ceroboh dalam kerjanya hari ini. Namun itu justru menggembirakan Adip, ya, bocah laki-laki itu bernama Adip. Ia memungut semua butir beras yang mampu ia pungutnya. Ia pun kemudiam pulang dengan memikul keenam cobek batunya, serta menjinjing satu kantong plastik penuh beras.
Keesokan harinya, ia memungut beras-beras di tempat penggilingan padi itu lagi. Begitu juga dengan hari berikutnya dan berikutnya lagi. Hingga suatu saat, dari enam cobek batu yang ia jajakan, terjual lima cobek batu, dan ia pun mendapatkan uang sebanyak 25.000 rupiah sebagai gantinya. Adip senang bukan kepalang. Biasanya, paling banyak terjual 2 cobek batu saja. Tapi kali ini, ia sanggup menjual lima cobek sekaligus. Ia pun pulang lebih cepat saat itu, dan melewati tempat penggilingan padi itu lagi. Namun kali ini, ia melewati tempat itu bukan untuk memungut beras, melainkan membeli beras. Ia memutuskan untuk menggunakan sebagian uang hasil dagangannya untuk membeli beras. Sudah lama ia ingin membawa pulang sekantong plastik beras bersih untuk ibu dan kedua adiknya. Ia pun dengan perasaan senang dan bangga memasuki tempat itu, kemudian membeli beras untuk pertama kalinya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia bisa menyerahkan sejumlah uang untuk membayar berasnya. Ia tidak sabar untuk segera sampai rumah dan memberikan beras itu pada ibunya.
Namun perasaannya teralih ketika ia keluar dari tempat penggilingan padi itu. Ada sesosok wanita renta yang tengah membungkuk ke tanah dengan susah payah, di tempat ia biasa memunguti beras. Wanita renta itu membawa sebuah kantong plastik dan ternyata sedang… memunguti beras. Tanpa sadar, Adip memerhatikan wanita itu. Berkali-kali wanita itu nyaris jatuh ketika membungkuk, gerakannya lambat dan tampak sulit. Kantongnya pun belum seperempat terisi. Adip membandingkan kantong plastik wanita renta itu dengan kantong plastiknya. Di satu sisi, ia tidak tega dengan wanita itu, namun tidak dipungkiri juga terbayang dalam pikirannya menikmati hangatnya nasi dari beras bersih yang ada di tangannya saat ini bersama ibu dan adik-adiknya.
Terdiam, akhirnya Adip mengambil keputusan. Ia berjalan menghampiri wanita itu dan berkata, “Nek, ini saya punya sedikit beras, masih baru kok Nek, ini buat nenek saja.” Awalnya wanita itu menolak, namun akhirnya si nenek mau menerima beras pemberian Adip tersebut, dan pergi sambil berucap terima kasih berkali-kali pada Adip.
Wanita renta itu telah hilang dari pandangan Adip, dan hari pun sudah semakin gelap. Yang ada di tangannya saat ini hanyalah satu cobek batu sisa yang tidak terjual hari ini. Tanpa berlama-lama, ia pun bergegas memunguti beras-beras yang masih tersisa di depan tempat penggilingan padi itu.
Adip memang telah berhasil membeli beras, dan kini beras itu ada di tangan orang lain. Tapi entah kenapa, hal itu tidak membuatnya menyesal ataupun kesal, memunguti tiap butir beras kali ini justru terasa lebih menyenangkan baginya. Berkali-kali ia tersenyum simpul sambil terus memunguti butiran beras. Dalam hatinya, kebahagiaannya hari ini bukan hanya disebabkan karena akhirnya ia bisa menjual cobek batu lebih banyak dan mendapatkan beras bersih dengan uangnya sendiri, tapi juga karena akhirnya ia bisa merasakan, betapa menyenangkannya ketika kita bisa menolong dengan memberi. Kini ia pun mendapatkan motivasi baru untuk terus bekerja keras, yaitu tidak hanya bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi, tapi juga untuk dapat menolong sesama. Karena ia menyadari satu hal, bahwa ternyata hidupnya dapat terasa lebih menyenangkan ketika ia bisa menciptakan senyum juga bagi orang lain.
riskapratiwi - 250312
